Infoku.id – Masyarakat Indonesia sedang dihebohkan oleh tindakan seorang pendakwah, Gus Elham Yahya atau yang sering dipanggil Gus Ilham yang dinilai oleh sebagian netizen sudah melewati batas.
Hal itu karena sebuah video yang viral memperlihatkan Gus Elham mencium beberapa anak perempuan di panggung, kemudian memasukkan sebagian pipi anak ke mulutnya.
Unggahan itu menarik jutaan penonton dalam waktu singkat, menyalakan perdebatan yang jauh lebih besar dari sekadar tindakan spontan seorang pendakwah.
Bagi sebagian orang, tindakan itu dianggap sebagai bentuk kedekatan atau ungkapan sayang. Namun bagi publik yang lebih luas, terutama di era ketika isu perlindungan anak semakin ditekankan, video tersebut melampaui batas kenyamanan sosial.
PBNU, Kementrian Agama dan KPAI Angkat Bicara
Di tengah arus komentar publik yang deras, PBNU mengeluarkan pernyataan tegas. Mereka menilai apa yang dilakukan Gus Elham menodai nilai dakwah dan tidak mencerminkan akhlak seorang pendakwah. Bagi PBNU, posisi dai bukan hanya pemberi ceramah, tetapi figur publik yang harus menjaga batas interaksi dengan anak-anak.
Sementara itu, Kementerian Agama memberikan nada serupa, bahwa tindakan tersebut tidak selayaknya dilakukan di ruang publik, lebih-lebih dalam kegiatan dakwah. Kemenag bahkan menyebut perlunya evaluasi dan pengawasan yang lebih kuat terhadap aktivitas para pendakwah dan pesantren.
Dari sisi perlindungan anak, KPAI menilai bahwa tindakan fisik semacam itu dapat meninggalkan dampak psikologis pada anak, mulai dari rasa malu hingga kebingungan tentang batas tubuh yang pantas. Mereka menegaskan bahwa interaksi antara orang dewasa dan anak harus berada dalam koridor perlindungan, bukan kedekatan yang berpotensi disalahartikan.
Permintaan Maaf
Setelah kontroversi memuncak, Gus Elham mengunggah video permintaan maaf. Ia mengakui bahwa ia khilaf, dan bahwa tindakannya tidak dilandasi niat buruk. Dia menegaskan bahwa anak-anak yang ikut naik ke panggung berada bersama orang tua masing-masing, dan ia hanya bermaksud menghibur.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa dakwah bukan hanya ceramah, tetapi juga keteladanan dalam tingkah laku, terutama ketika melibatkan anak-anak yang rentan dan mudah terpengaruh.










