Infoku.id – Baru-baru ini, masyarakat Indonesia diramaikan dengan istilah bahan bakar jerami dan BOBIBOS. Banyak orang yang mencari tahu di internet atau sosial media dua istilah tersebut.
Lalu apa sebenarnya dua hal itu? Begini penjelasannya. Bahan bakar jerami merupakan salah satu bentuk atau upaya mewujudkan inovasi energi hijau.
Hal ini dikatakan bisa menjadi salah satu bahan bakar alternatif dimana bisa menjadi solusi pengganti bahan bakar fosil yang diklaim lebih ramah lingkungan.
Munculah BOBIBOS yang merupakan singkatan dari Bahan Bakar Asli Buatan Anak Bangsa yang menjadikan jerami sebagai bahan untuk membuat energi baru pengganti bahan bakar.
Selama ini, jerami hasil panen padi sering dianggap limbah tak berguna dan banyak dibakar di lahan terbuka. Pembakaran ini menyebabkan polusi udara dan emisi karbon tinggi.
Namun BOBIBOB melihat ada potensi besar jerami untuk diubah menjadi bioetanol, biogas, atau briket biomassa yang bisa menggantikan bahan bakar fosil.
Menurut data Kementerian Pertanian, Indonesia menghasilkan sekitar 90 juta ton jerami setiap tahun. Dari jumlah itu, sebagian besar belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui proses fermentasi dan pengolahan kimia, jerami yang mengandung lignoselulosa dapat diubah menjadi bioetanol, bahan bakar cair ramah lingkungan yang bisa digunakan sebagai pengganti bensin.
“Jika satu ton jerami dapat diolah dengan tepat, hasilnya bisa mencapai hingga 200 liter bioetanol. Ini berpotensi besar mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak,” jelas Dr. Andi Prasetyo, peneliti energi biomassa dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Mengenal lebih jauh BOBIBOB
Nama BOBIBOS kini menjadi perbincangan hangat di masyarakat Indonesia karena inovasi energi yang dibuat. Sebuah inovasi bahan bakar alternatif yang dibuat dari limbah organik dan pertanian, termasuk jerami, yang diolah menggunakan teknologi konversi bio dan rekayasa kimia modern.
Bahan bakar ini diklaim mampu menghasilkan emisi yang jauh lebih rendah dibandingkan bahan bakar konvensional, sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan energi.
Dalam beberapa uji coba, BOBIBOS bahkan telah memperoleh sertifikasi dari Lembaga Minyak dan Gas (Lemigas), membuktikan kualitas dan keamanan penggunaannya.
“BOBIBOS hadir sebagai wujud nyata kemandirian energi Indonesia. Kami ingin menunjukkan bahwa anak bangsa mampu menciptakan bahan bakar yang bersih, efisien, dan ramah lingkungan,” ujar salah satu penggagas BOBIBOS dalam konferensi pers peluncuran produk tersebut di Jakarta.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menunjukkan dukungannya terhadap pengembangan energi biomassa. Beberapa proyek percontohan pemanfaatan jerami sebagai bahan bakar sedang diuji di Jawa Tengah dan Sumatera Selatan.
Inovasi seperti BOBIBOS juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani. Jerami yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat dijual ke pabrik pengolahan biomassa dengan harga Rp300–Rp500 per kilogram.
“Ini menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani sekaligus mengurangi pembakaran jerami di lahan,” kata Sumarno, Kepala Dinas Pertanian Jawa Tengah.








